post Category: Assessment, Tips Praktis — consulthr @ 5:43 am — post Comments (3)
Top Tips: Sukses dalam Assessment Centre
  • Temukan apa yang menjadi kelebihan Anda.
  • Ketahuilah bahwa kegiatan-kegiatan dalam Assessment centre adalah kesempatan untuk mempelajari diri sendiri dengan lebih baik.
  • Bersiaplah dengan beragam tipe alat tes.
  • Terimalah bahwa Anda tidak selalu dapat tampil dalam performa terbaik di setiap alat yang diberikan kepada Anda.
  • Dalam beberapa tes yang lebih kompleks, menganalisis dan mengolah informasi adalah ketrampilan kunci yang dicari oleh assessor.
  • Baca, analisis, dan bertindak secara cepat dalam setiap tes, jadi jika Anda tahu bahwa kelemahan Anda ada disini, mulailah berlatih sebelum Anda di-assess oleh assessor.
  • Ingat! Anda telah melakukan yang terbaik hingga bisa sampai di tahap ini, jadi berpikir positif dan be confident.
post Category: Resensi Buku — consulthr @ 2:51 am — post Comments (0)

More Psychometric Testing

soal psikotest

Penulis: Philip Carter & Ken Russel

Penerbit: John Wiley & Sons, Ltd

Tahun: 2003

Jumlah Halaman: 274

Tidak berbeda jauh dengan buku pertamanya, dalam buku yang kedua ini, kedua penulis masih berbicara mengenai inventori kepribadian dan aptitude tes.  Yang membedakan hanya pada tema-tema inventori yang diukur.  Tema-tema inventori dalam buku ini telah diklasifikasikan dengan lebih spesifik. Seperti di bagian 1 dari inventori kepribadian berisi inventori yang didisain untuk mengukur kepribadian secara umum, kreativitas, dan perceptual skills.  Sementara di bagian kedua, berisi inventori kepribadian yang mengukur sisi kemanusiaan kita, seperti kindness, humour, jealous, impulsive dsb. 

Di bagian aptitude test, sama seperti buku sebelumnya aptitude tes  dibuku ini terdiri dari 2 bagian, baik bagian satu maupun bagian dua berhubungan dengan spatial ability, logic, verbal, dan numerical tes.  Tes di bagian 1 terdiri dari 40 soal yang dipisahkan berdasarkan 4 sub tes disebutkan di atas dengan batas pengerjaan 2 jam,  sementara tes di bagian 2 terdiri dari 20 soal dengan batasan waktu 1 jam pengerjaan. Kita diminta untuk mengikuti batasan waktu tersebut atau skor yang kita dapat menjadi tidak berarti.  Dalam tes ini diberikan interpretasi atas nilai yang kita dapat.   Hanya sayangnya buku ini masih dalam bahasa Inggris dan belum diterjemahkan, jadi untuk yang mau berlatih dengan menggunakan buku ini diharapkan sudah memahami bahasa Inggris seperti kita berbahasa Indonesia, sebab kalau tidak, maka interpretasinya menjadi tidak valid.  Tapi paling tidak, jika ingin berlatih soal-soal tes, buku ini cukup berbobot.  Selamat membaca!     

post Category: Assessment, HR Topics, Tipe-tipe Test/Tes — consulthr @ 3:47 am — post Comments (5)

Kelebihan dan Kelemahan Assessment Instruments

 

 

Instrumen

 

Kelebihan

 

Kelemahan

 

Ability Test
  • Dapat memprediksi kinerja pada berbagai jenis pekerjaan dengan cukup baik.
  • Mudah dan murah dalam peng-administrasian.
  • Dapat menyebabkan adverse impact yang tinggi.
  • Khusus pada Physical ability test berbiaya mahal dalam pengembangan dan pengadministrasian.
Achievement test
  • Secara umum, tes ini memiliki validitas yang relatif tinggi.
  • Mudah dan murah dalam peng-administrasiannya.
  • Work-sample test biasanya menyebabkan adverse impact yang lebih rendah dibandingkan ability test.
  • Ada kemungkinan menyebakan adverse impact.
  • Work-sample test mahal dalam pengembangan dan pengadministrasiannya.
Inventori Biodata
  • Mudah dan murah dalam administrasinya.
  • Memiliki validitas yang cukup baik.
  • Dapat membantu mengurangi adverse impact jika digunakan bersama instrumen yang lain.
  • Pertanyaan-pertanyaan privasi menjadi concern utama dapat membuat ketidaknyamanan.
  • Ada kemungkinan berisi informasi yang tidak benar (perlu verifikasi jika memungkinkan).
Interview kerja
  • Interview yang terstruktur dan didasarkan pada job analisis, cenderung valid digunakan.
  • Dapat mengurangi adverse impact jika digunakan bersamaan dengan instrumen lain.
  • Validitas rendah jika Interview yang dilakukan tidak terstruktur.
  • Membutuhkan ketrampilan interviewer dalam menggali informasi.
Inventori Kepribadian
  • Secara umum, tes ini memiliki validitas yang relatif tinggi.
  • Mudah dan murah dalam pengadministrasian.
  • Butuh kualifikasi khusus pada penilai jika menggunakan inventori kepribadian yang bersifat klinis.
  • Memungkinkan terjadinya social desirability yang tinggi dan ada kemungkinan menjawab dengan tidak benar.
  • Ada kecenderungan invasi ke masalah pribadi.
Pengukuran kejujuran/integritas
  • Mudah dan murah dalam mengadministrasikan.
  • Valid pada beberapa kasus.
  • Biasanya tidak menyebabkan adverse impact.
  • Concern yang tinggi terhadap masalah privacy.
  • Kemungkinan mudah diakali/menjawab tidak benar.
  • Mensyaratkan kualifikasi special untuk dapat menginterpretasikan hasil tes.
Assessment center
  • Prediktor yang baik untuk menilai kinerja kerja, potensi manajerial, dan kemampuan memimpin.
  • Cocok untuk penilaian peawai dengan pendekatan whole-person.
  • Cukup mahal dalam mengembangkan dan mengadministrasikan.
  • Membutuhkan ketrampilan khusus dari assessor; ketrampilan assessor sangat menentukan kualitas assessment center.
andin 2008
post Category: Resensi Buku — consulthr @ 11:46 pm — post Comments (0)

Psychometric Testing

Penulis: Phillip Carter dan Ken Russel

Penerbit: John Wiley & Sons, Ltd.

Tahun: 2001

Jumlah halaman : 234

Tes Psikometri Inteligensi Kepribadian Jika Anda membutuhkan buku yang cukup berbobot untuk mencari tahu info ringkas seputar psikometri dan ingin mencoba berbagai latihan tes inteligensi dan inventori psikologis lainnya, cobalah membaca buku ini.  Buku ini memberikan informasi yang lumayan lengkap dan padu.  Terdiri dari berbagai inventori kepribadian dan aptitude tes.  Beberapa diantara inventori yaitu; kreativitas, kepribadian, diplomatik, risk taker, leader or follower, imaginative,  termasuk mengukur seberapa baik Anda akan sukses.  Dalam buku ini selain tersedia alat ukurnya, juga disediakan  jawaban.  Bahkan untuk inventori psikologis ada interpretasi atas hasil Anda.  Jadi Anda dapat mengetahui seperti apa Anda.  Lumayan asyik untuk mencari tahu tentang diri sendiri. 

Setahu saya buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Anda dapat mencarinya di toko buku dengan judul yang sama.  Mungkin kelemahan buku ini adalah tidak adanya informasi psikometri atas alat ukur yang digunakan, misalnya seberapa valid dan reliabel alat tersebut.  Di samping itu, untuk tes inteligensi,  yang tersedia hanya range umum untuk menginterpretasikan hasil yang diperoleh dari jawaban kita.  Namun lepas dari kekurangannya, buku ini tetap asyik untuk dibaca dan dicoba oleh Anda.  Siapa tahu Anda menjadi lebih paham mengenai diri Anda sendiri.

Selamat mencoba. 

post Category: Assessment, HR Topics — consulthr @ 3:22 am — post Comments (0)

Apakah Tes Psikometri itu?

Pernahkah Anda dipanggil untuk mengikuti tes psikometri? Apa artinya itu? Apakah bedanya dengan psikotes atau tes psikologi? Saat ini banyak perusahaan menggunakan tes psikometri untuk melakukan proses rekrutmen pegawai.  Tes psikometri bertujuan untuk mengukur aspek-aspek dari kemampuan mental atau kepribadian Anda.  Tes ini berkembang sejak awal abad 20 dan dikembangkan pertama kali dalam psikologi pendidikan.  Dengan berjalannya waktu, tes psikometri ini menjadi bagian integral dari proses seleksi dan rekrutmen di perusahaan/organisasi.   Ada banyak aspek yang bisa dinilai dari tes psikometri diantaranya, inteligensi, aptitude, kepribadian, kompetensi, termasuk juga bagaimana Anda bekerja dengan orang lain, bagaimana Anda mengatasi stress, dan apakah Anda dapat memenuhi kriteria intelektual yang dibutuhkan perusahaan yang semuanya menjadi informasi berharga bagi perusahaan untuk mengambil keputusan apakah Anda tepat bekerja di perusahaan mereka.

Pengguna tes psikometri mencapai lebih dari 80% perusahaan yang terdaftar dalam Fortune 500 USA dan lebih dari 75% dari perusahaan yang terdaftar pada Times Top 100 di UK.   Apakah bedanya dengan psikotes?  Bedanya ada pada pengguna alat tersebut.  Psikotes biasanya digunakan dan diadministrasikan oleh biro psikologi yang memberikan jasa psikologi tersebut.  Sementara pengguna tes psikometri adalah perusahaan-perusahaan yang telah mendisain dan mengembangkan alat tersebut sesuai kebutuhan mereka.   Contohnya, jika pada biro psikologi, maka kepribadian yang dinilai adalah kepribadian kita pada umumnya, maka pada tes psikometri, yang dinilai apakah kepribadian kita FIT dengan budaya perusahaan yang memakai tes psikometri tersebut.  Dengan demikian, dengan menggunakan tes psikometri, perusahaan tentunya lebih yakin dalam menemukan calon-calon terbaik untuk perusahaan mereka karena dites dengan menggunakan alat ukur yang sesuai kebutuhan mereka. Jadi bagaimana? masih bingung mau menghadapi tes psikometri.  Semoga Tidak. 

post Category: HR Topics, Tips Praktis — consulthr @ 4:26 am — post Comments (0)

12 Pertanyaan Krusial Saat Membeli Personality Test

oleh Andin Andiyasari

___________________________

Pernah dengar DISC, MBTI, OPQ? Ini adalah sebagian kecil dari beragam alat ukur yang terstandarisasi untuk menilai aspek psikologis diluar inteligensi/kemampuan.  Alat-alat ini sering disebut kuesioner/inventori. Tujuannya bermacam-macam, diantaranya, mengukur minat, kepemimpinan, kompetensi, kepribadian, dsb.   Apa yang harus Anda lakukan sebagai seorang HRD jika ditawarkan alat-alat ini? Inilah 12 Pertanyaan krusial yang wajib Anda tanyakan:

1. Untuk tujuan apa? Setiap alat ukur dibuat untuk mengukur sesuatu. Cek untuk tujuan mengukur apa alat tersebut dibuat.  Apakah sesuai dengan kebutuhan Anda? Anda harus dapat mendapatkan informasi ini secara lengkap karena jika Anda salah mengidentifikasikan antara kebutuhan Anda dan tujuan dari alat tersebut dibuat, maka menjadi tidak berguna alat yang Anda beli tersebut.    2. Bagaimana bentuk laporannya? dengan melihat format laporan, Anda dapat mengetahui apakah inventori tersebut sesuai kebutuhan Anda atau tidak. 3. Apakah mudah digunakan? lihat format respon dan bagaimana teknik penskoran dilakukan.  Ini memberikan gambaran bagaimana melakukan interpretasinya. 4. Apakah informasi pribadi saya dilindungi? Jika data diolah langsung oleh penyedia alat tes, tanyakan jaminan bahwa informasi pribadi yang ada tersebut tidak digunakan untuk kepentingan lain. Bisa dimintakan agar vendor membuat jaminan. 5. Apakah online? Alat ukur yang berbentuk online biasanya lebih murah dan dapat meminimalkan error saat melakukan interpretasi.  Jika masih manual, tanyakan bagaimana cara meminimalkan error yang mungkin terjadi karena human error. 6. Dukungan teknikal apa yang diberikan? Pilihlah vendor yang memberikan dukungan teknikal, misal free support, updates, dan informasi yang dapat didownload dengan mudah. Jika skoring dapat dilakukan sendiri, tanyakan bagaimana cara menginterpretasikannya. Lebih baik lagi jika bisa mendapatkan training dan layananan purna jual yang kontinyu. 7. Apakah ada pilihan harga? Adakalanya perusahaan memiliki anggaran terbatas, sehingga perlu membatasi biaya tes per orang.  Salah satu caranya adalah vendor menyediakan report versi full atau versi ringkas sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan Anda. 8. Sejauhmana Anda dapat memodifikasi pernyataan yang ada dalam tes/inventori? biasanya jarang sekali Anda dapat memodikasi pernyataan. Tapi dimungkinkan jika Anda ingin menggunakan inventori tersebut sebagai bagian dari survei kepuasan pegawai misalnya.  9. Apakah akan ada masalah legal jika menggunakan inventori tersebut?  Jika sampai terjadi masalah legal terhadap assessment yang dilakukan, apakah vendor mau menolong? apakah ada dukungan dari vendor? gunakan vendor yang bisa memberikan back up bukti scientific yang relevan dengan inventori tersebut. 10. Apakah memiliki manual teknis? Ini yang paling penting, jika Anda membeli inventori mulai dari materi pernyataan hingga ke interpretasi, Anda perlu mendapatkan informasi selengkapnya yang ada. Dalam hal ini manual teknis yang lengkap; cara peng-administrasi-an, cara skoring, dan cara interpretasi hasil.  Disamping itu Anda juga perlu mendapatkan manual teoritis dan research yang mendukung proses pembuatan inventori tersebut. 11. Apakah inventori tersebut memiliki informasi psikometri yang lengkap?  Pilihlah alat ukur yang dikonstruksikan atau didesain dengan metodologi ilmiah dan memakai norma yang sesuai serta memiliki informasi validitas dan reliabilitas yang terpercaya.   12. Apakah inventori tersebut merupakan adaptasi dari alat tes dari luar negeri?  Banyak alat tes yang beredar di Indonesia merupakan translate saja dan tidak melalui proses adaptasi alat yang baku.  Untuk memastikan bahwa alat tersebut benar-benar adaptasi, tanyakan informasi psikometri yang tersedia. Tanyakan sampel yang digunakan, reliabilitas, validitas, dan apakah ada item yang berubah atau dihilangkan dari yang asli.  Dengan demikian Anda akan lebih yakin menggunakan alat tersebut.

post Category: Assessment, HR Topics — consulthr @ 1:36 am — post Comments (1)

11 Teknik Menilai Keandalan Sebuah Instrumen/Alat Ukur Psikologis

oleh Andin Andiyasari

____________________

Sebulan yang lalu saya menjanjikan menulis artikel mengenai teknik menilai keandalan alat ukur psikologis,  semoga tulisan ini memenuhi janji tersebut. 

Saat ini, sebagaimana kita ketahui bersama, organisasi banyak dihadapkan pada berbagai pilihan alat ukur psikologis yang mengklaim dirinya sebagai yang terbaik dalam menilai aspek psikologis manusia. Apakah klaim tersebut benar?  Ada baiknya Anda, sebagai HRD yang bertanggungg jawab terhadap masalah manusia di organisasi Anda, mencoba menilai keandalan alat ukur yang Anda beli dengan memegang 11 prinsip di bawah ini:

  1. 1. Reliabilitas : Dalam mengukur kapasitas seseorang, Anda hanya bisa yakin informasi yang diberikan benar, jika alat tersebut memiliki keandalan/dapat dipergunakan berulangkali dengan hasil yang mendekati sama seperti sebelumnya.  Dalam psikologi, reliabilitas berarti sejauhmana alat ukur tersebut secara konsisten mengukur apa yang ingin diukur. Ada 4 tipe dari informasi mengenai reliabilitas; internal consistency, tes-retest, alternate form, dan inter-rater. Tanyakan informasi mengenai reliabilitas berdasarkan 4 tipe reliabilitas tersebut.  

  2. 2. Validitas : Memberikan hasil yang konsisten belum cukup untuk membuat sebuah alat ukur efektif.  Mungkin saja alat ukur tersebut reliabel — Anda tahu bahwa alat tersebut mengukur sesuatu — tapi apakah Anda tahu alat tersebut valid?  Validitas berarti sejauhmana alat ukur tersebut mengukur apa yang ingin diukur. Sebuah alat ukur dikatakan valid jika, korelasi dengan baik dengan alat ukur lain yang mengukur hal yang sama (concurrent validity), dapat dikaitkan dengan rating atau kriteria lain yang mendukung hasil alat ukur tersebut (external validity), dapat membedakan antara kelompok (discriminant validity), dan tidak berkorelasi dengan konstruk yang secara teoritis memang tidak terkait (divergent validity).  Ada banyak bentuk validitas lainnya, dan setiap tipe validitas memberikan informasi tentang bagaimana alat ukur tersebut didesain sehingga benar-benar mengukur apa yang ingin diukur dan dengan cara apa alat ukur tersebut digunakan dalam pengambilan keputusan.  Index validitas yang bagus ditentukan oleh sekumpulan riset-riset validitas dengan menggunakan beragam metodologis. Sebuah alat ukur yang kaya dengan informasi validitas yang diterbitkan (terutama dalam jurnal-jurnal ilmiah) semakin membuat kita yakin bahwa alat tersebut memang benar-benar valid mengukur apa yang ingin kita ukur.

  3. 3. Sampel Normatif : Setiap survei selalu mengumpulkan data mentah dari sekumpulan orang. Tetapi bagaimana Anda menentukan apa sebenarnya dihasilkan dari data tersebut?  Interpretasi atas skor tes seseorang memiliki arti jika dibandingkan dengan sebuah nilai kelompok yang lebih besar, dikenal dengan nama normatif population.  Norma adalah satu set skor tes yang memberikan benchmark atas perbandingan ini.  Contoh, banyak tes IQ memiliki nilai rata-rata 100; berdasarkan hal ini, memungkinkan untuk menentukan apakah seseorang berada di atas atau di bawah rata-rata.  Untuk membangun norma, alat ukur tersebut harus diuji cobakan pada sampel yang sesuai dengan tujuan alat ukur tersebut.  Tidak hanya jumlah sampelnya tapi pemilihan sampel juga harus dilakukan dengan hati-hati, termasuk gender, umur, etnis, dan geografi. Sebagai contoh, sebuah alat ukur yang mengukur sales profile, maka sebaiknya diujicobakan ke orang-orang sales dan bukan ke anak sekolah.

  4. 4. Bukti bahwa hasil tes berkaitan dengan realitas yang sebenarnya: pertanyaan  penting yang perlu Anda tanyakan adalah bagaimana keterkaitan hasil tes dengan realitas sesungguhnya.  Jika ada vendor yang mengklaim bahwa alat ukurnya dapat mengetahui orang yang perform dengan orang yang tidak sehingga hasil akhirnya adalah  meningkatkan ROI Anda, tentunya Anda berminat dengan alat ukur tersebut bukan? Tetapi Anda perlu cari tahu dulu apakah hal tersebut benar, cek melalui informasi yang pernah mereka publikasikan bagaimana alat tersebut dapat dikaitkan dengan performance atau efektifitas.

  5. 5. Jaminan bahwa alat ukur tersebut didasarkan pada model teoritis yang telah diakui oleh ilmuwan psikologi ternama : Secara profesional mendesain alat ukur harus menggunakan metode empiris yang menguji sebuah teori yang sudah establish.  Tanpa dasar teori yang jelas, maka arti skor dari alat ukur tersebut menjadi tidak jelas dan tidak berdasar.  Cari alat ukur yang memiliki literatur yang lengkap, kombinasi teori yang padu, ada korelasi antara teori, dan cari bukti signifikan bahwa alat ukur tersebut memang bagus sehingga meningkatkan keyakinan Anda terhadap interpretasi hasil skor tes dari alat ukur tersebut. 

  6. 6. Pilih alat tes yang sesuai dengan kebutuhan organisasi Anda: jika Anda ingin mengetahui kompetensi individu di organisasi, maka Anda jangan menggunakan alat ukur yang mengukur kepribadian atau minat.  Jadi Anda perlu benar-benar menggali kebutuhan Anda dan cari tahu apakah alat ukur yang ditawarkan benar-benar memenuhi kebutuhan Anda.

  7. 7. Cari tahu riset-riset yang mendasari alat ukur tersebut : penyedia alat tes yang profesional selalu meng-up date alat ukurnya melalui riset-riset yang terus menerus mereka lakukan, sehingga merefleksikan bagaimana komitmen mereka terhadap alat yang mereka kembangkan. Cari tahu melalui web atau tanyakan langsung kepada penyedia alat ukur tersebut.

  8. 8. Tanyakan bagaimana aplikasi selanjutnya setelah alat ukur digunakan : setelah semua karyawan mengisi alat ukur tersebut. Selanjutnya apa?  Apakah Anda semua yang mengerjakan sisanya? Anda hanya diberi hasil akhir saja? next? Jadi ada baiknya Anda membeli alat ukur yang memberikan training dan coaching atas materi tesnya dan apa yang bisa dilakukan selanjutnya dengan hasil tersebut, dengan demikian Anda menghemat waktu, biaya, dan tenaga Anda bahkan Anda bisa mendapati ilmu juga.

  9. 9. Yakinkan bahwa alat tersebut tidak melanggar peraturan pemerintah : Yakinkan diri Anda bahwa alat ukur yang Anda beli tidak melanggar pedoman-pedoman yang ada dalam industri alat ukur, peraturan-peraturan pemerintah, maupun asosiasi terkait lainnya.  Cari penyedia alat ukur yang selalu meng-update informasi yang berkaitan dengan unsur legalnya.

  10. 10. Cek persyaratan kualifikasi pengguna : hal ini berkaitan dengan isu etis dan legal.  Cari tahu siapa yang boleh menggunakan alat ukur tersebut, apakah diperlukan persyaratan khusus untuk menggunakan alat itu.  Ada kalanya alat tes mensyaratkan kualifikasi pendidikan tertentu, namun ada juga yang tidak, hal tersebut seringkali  tergantung dari proses membuat interpretasinya.

  11. 11. Berhati-hatilah dengan alat ukur yang merupakan adaptasi dari luar negeri : ini yang seringkali diabaikan oleh penyedia alat tes di dalam negeri, adakalanya mereka hanya melakukan translate bahasa namun tidak melakukan uji validitas dan reliabilitas lagi, padahal dimungkin ada item/pernyataan yang tidak sesuai dengan budaya/kepribadian dari orang-orang kita. Jadi cari tahu bagaimana alat tes tersebut diadaptasi, dan apakah melalui prosedur yang benar (psychometric approach) atau hanya melakukan translate saja. 

post Category: Tipe-tipe Test/Tes — consulthr @ 12:26 pm — post Comments (25)

Tips Membuat Skala Likert 

Skala Likert dikembangkan oleh Rensis Likert (1932).  Dikenal juga dengan nama skala sikap. Skala Likert merupakan skala yang paling banyak dipakai dalam inventori kepribadian karena bentuknya yang simpel dan mudah dalam penggunaannya serta tidak sulit dalam melakukan skoring.Namun demikian, diperlukan kaidah-kaidah tersendiri dalam membuat item pada skala likert. Dibawah ini beberapa tips untuk membuat skala likert.

  1. Buat item dengan singkat, padat, dan simpel. Tidak lebih dari 20 kata dalam sebuah pernyataan.
  2. Hindari terjadinya makna ganda.
  3. Satu pernyataan hanya terdiri dari satu ide tunggal.
  4. Hindari pernyataan yang tidak mungkin dipilih oleh seorangpun atau sebaliknya.
  5. Hindari terjadinya double negative dalam satu pernyataan.
  6. Hindari penggunaan kata yang tidak dipahami oleh responden yang dituju.
post Category: HR Topics, Tipe-tipe Test/Tes — consulthr @ 1:53 am — post Comments (3)

Mengapa perusahaan perlu mengetahui informasi dibalik tes kemampuan atau kuesioner kepribadian yang digunakan oleh biro psikologi?

oleh Andin Andiyasari

Adakalanya perusahaan yang ingin melakukan seleksi terhadap pegawai menggunakan biro psikologi untuk meng-assess keadaan psikologis calon pegawainya.  Namun apakah perusahaan tahu jenis alat tes yang digunakan dan apa kegunaan setiap  alat tes bagi calon yang dites? belum tentu.

Banyak perusahaan memakai biro psikologi dan menyerahkan proses assessment begitu saja pada biro tersebut tanpa mencari tahu lebih banyak, padahal mengetahui alat tes yang digunakan merupakan kunci penting untuk mengetahui kesesuaian antara potensi, kemampuan, dan kepribadian  calon dengan kebutuhan perusahaan, termasuk kesesuaiannya dengan budaya kerja di perusahaan yang merekrut.

Di Indonesia, psikotes merupakan istilah yang umum digunakan untuk menjelaskan proses pemeriksaan psikologis calon pegawai.  Setiap kita mendengar kata psikotes yang terbayang adalah tes mencari persamaan kata, menjumlahkan angka, mencari gambar yang sesuai, menyesuaikan dadu, menggambar orang, dsb.  Ini merupakan tipikal psikotes di Indonesia, dan sebagaian besar hanya mengukur kemampuan/kecerdasan, padahal tes psikologi bukan hanya psikotes, diantaranya tes potensi, tes bakat, tes aptitude dan inventori/kuesioner kepribadian yang bahkan seringkali lebih dibutuhkan untuk meng-assess calon pegawai level manajer dibanding psikotes yang selama ini kita tahu.

   

Saat ini istilah psikotes, menurut penulis, sudah tidak tepat lagi.  Dengan berbagai ragam alat tes yang ada, penamaan psikotes menjadi kurang mencukupi sehingga kata yang tepat untuk pemeriksaan psikologis adalah tes psikometri, istilah ini  juga merupakan istilah yang umum dipakai di negara-negara maju untuk melakukan assessment psikologis yang menggunakan media alat tes.

Sudah saatnya perusahaan memiliki pemahaman yang mendalam mengenai berbagai alat tes psikologi  yang ada.  Terutama bila ingin merekrut level manajer, yang notabene tidak lagi membutuhkan tes kecerdasan/kemampuan yang seringkali disebut psikotes.  Di level manajer informasi yang dibutuhkan perusahaan lebih pada informasi mengenai kepribadian calon manager tersebut dan bagaimana potensinya untuk berkembang di masa datang.

Jika perusahaan memang masih membutuhkan tes kecerdasan/kemampuan terhadap kandidat di level manajer, maka yang digunakan bukan lagi tes-tes yang juga digunakan untuk  merekrut fresh graduate, melainkan tes yang memiliki level kesukaran yang lebih tinggi dan soal yang lebih bervariatif.

Bagaimana cara perusahaan memilih tes-tes yang ada dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan,  nantikan info selanjutnya dari consultanthr.com  

post Category: Tips Praktis — consulthr @ 11:12 pm — post Comments (7)

Rahasia mengatasi stress saat menjalani psikotes / tes psikometri

oleh Andin Andiyasari 

Bagi Anda yang pernah menjalani psikotes mungkin pernah merasakan sakit perut, tangan tiba-tiba keringatan, detak jantung yang berlebihan, atau suasana hati yang tertekan saat bersiap menjalani psikotes.  Anda tidak sendirian, sebagian besar orang mengalaminya.  Bagaimana mengatasinya, inilah rahasia mengatasi stress dari consultanthr :

  1. 1. Ingat untuk sarapan atau makan sebelum tes dimulai.  Ini penting agar tubuh Anda tidak menderita  dan Anda bisa kosentrasi menjawab soal tanpa gangguan kelaparan.  
  2. 2. Bersikap setenang mungkin.  Ingatlah kegelisahan pada tingkat tertentu adalah wajar
  3. 3. Hindari memperlihatkan kegelisahan Anda. Anda harus tampak percaya diri karena perilaku Anda secara umum berada dalam pengamatan seperti halnya hasil tes Anda
  4. 4. Jika tiba-tiba menghadapi masalah, yang pertama dilakukan adalah JANGAN PANIK.  Jika panik, maka tubuh Anda akan bereaksi negatif sehingga Anda tidak bisa berpikir dengan tenang.  Mintalah bantuan pengawas jika Anda menghadapi masalah, pengawas pasti akan membantu Anda.
  5. 5. Nyamankan diri Anda.  Pelajari teknik-teknik relaksasi atau visualisasi yang sesuai dengan diri Anda untuk meredakan ketegangan (Anda dapat pelajari dari buku-buku relaksasi/visualisasi yang ada di toko buku)
  6. 6. Buat posisi dimana Anda berada menjadi senyaman mungkin.  Misal jika meja atau kursi Anda bergoyang, cari kertas untuk mengganjalnya.  
  7. 7. Bekerjalah seefisien mungkin. kerjakan cepat namun tidak terburu-buru
  8. 8. Hindari membuang-buang waktu dengan mencari soal “jebakan” karena Anda tidak bisa menemukannya dengan mudah
  9. 9. Ingatlah makin banyak soal yang Anda kerjakan, makin besar kemungkinan Anda mendapatkan nilai tinggi
  10. 10. Sesekali pandanglah sekeliling Anda, ambil napas dalam-dalam, pejamkan mata, dan luruskan kaki.  Ini akan membantu meredakan ketegangan yang timbul dalam diri Anda
  11. 11. Jangan putus asa jika pertanyaan terasa sulit.  Pertanyaan itu mungkin sama sulitnya bagi orang lain
  12. 12. Jangan cemas jika pesaing Anda tampak bekerja lebih cepat ketimbang Anda. Tidak ada jaminan bahwa jawaban mereka benar
  13. 13. Jika Anda merasa tidak enak badan, katakan pada pengawas.  Tidak ada untungnya diam dalam penderitaan
  14. 14. Jangan terlalu memaksa diri.  Percayalah Anda telah melakukan hal yang terbaik.
  15. 15. Selalu berpikir positif. Pikiran positif membuat tubuh Anda bereaksi positif, timbal baliknya adalah Anda menjadi nyaman dengan situasi atau kondisi yang ada. 

Selamat menjalani tes psikometri. Sukses untuk Anda.

Graha Mustika Ratu Lt. Mezzanine
Gatot Subroto Kav. 74-75 Jakarta Selatan
Tel. 021-3295 9205, 021-8370 8885
Fax. 021-8370 8885
email:info@consultanthr.com
Ask me if you need more information